Showing posts with label Product Innovation. Show all posts
Showing posts with label Product Innovation. Show all posts

Saturday, May 8, 2010

Implementation Of RFID (Radio Frequency Identification)



Antrain panjang dikasir atau troli yang ditinggalkan pemiliknya karena lelah menunggu antrian di kasir. Begitulah fenomena yang terjadi pada bisnis retail di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena lamanya waktu proses pelayanan pada kasir yang disebabkan kasir harus menscan satu per satu item barang belanjan konsumen melalui mesia barcode. Bisa dibanyangkan jika ada 30 jumlah item yang dibeli pelanggan, maka 30 kali sang kasir melakukan scan. Sungguh sangat tidak efektif dan efisien. Dimasa depan fenomena seperti ini suadah tidak akan terjadi. Bisnis retail di Inodonesia akan dihiasi dengan munculnya teknologi RFID. Dengen pemanfaatan teknologi RFID, pelanggan tidak perlu menghabiskan waktu untuk menagatri di kasir, pelanggan cukup memasukkan barang ke troli dan secara otomatis akan terdeteksi jumlah tagihan yang harus dibayarkan oleh pelanggan.


Berbeda dengan teknologi sebelumnya yaitu barcode, RFID dapat membaca code-code tersebut dalam radius beberapa meter sehingga tidak mengharuskan barang untuk discan satu per satu. RFID (Radio Frequency Identification) yang menggunakan gelombang radio ini memiliki daya simpan yang cukup besar melebihi barcode. RFID dapat dianalogikan seperti chip pada SimCard provider telekomunikasi yang dapat menyimpan data phonebook maupun message. Negara yang sudah menerapkan RFID adalah Jepang dan Amerika. Amerika sendiri mengembangkan RFID untuk pengecekan paspord, sehingga ketika pengguna paspord pergi akan ke luar negeri dan mendekatkan parpord tersebut pad terminal reader RFID, maka dapat diketahui asal turis tersebut dan tujuan keberangkatannya serta identitas lainnya.


Sekalipun RFID sudah dikembangkan di Uni Soviet tahun 1946, namun jepang dapat dikatakan Negara yang sukses memanfaatkan teknologi RFID. Adapun aplikasi RFID yang diterapkan oleh Jepan adalah sebgai berikut :








  • RFID di Sekolah Dasar Provinsi Wakayama

RFID dipasang pada nametag atau tas sekolah siswa, sedangkan reader dipasang pada pintu. Sehingga reader akan mencatat jam kehadiran atau absensi siswa dan dengan perangkat tambahan, akan secara otomatis mengirim email kepada wali murid.


  • RFID pada provider handphone (Jasa Telekomunikasi)

RFID dipasang pada perangkat handphone yang diterapkan oleh NTT Docomo, sehingga pelanggan dapat menggunakan perangkat handphone yang telah dilengkapi RFID sebagai alat untuk pembayaran pada reader yang tersedia oleh merchant-merchant yang bekerjasama, layaknya kartu debit dan kartu kredit pada mesin EDC. Layanan ini dinamakan Osaifu-Keitai (おサイフケータイ, Osaifu-Kētai).


  • Pengawasan Pengiriaman Paket

Dengan penggabungan aplikasi RFID dan internet, pelanggan dapat mengakses rute perjalanan dan mengetahui lokasi-lokasi pada waktu tertentu dengan mengkasesnya melalui internet, RFID terdeteksi oleh reader yang terpasang pada gate-gate yang dilaluinya


Lalu bagaimana dengan penggunaan RFID di Indonesia??? Meskipun penggunaan RFID di Indonesia tidak secanggih di Jepang, setidaknya Indonesia pun sudah menerapkan RFID meskipun masih terbatas. Teknologi RFID pertama kali diterapkan oleh BCA pada produk kartu prepaid BCA FLAZZ. Kartu tersebut berupa chip yang menyimpan informasi jumlah uang di dalam kartu. Dengan menempelkan kartu BCA FLAZZ pada terminal reader, maka pelanggan dapat melakukan pembayaran pada merchant-merchant yang berkerjasama dengan BCA. Teknologi ini pun serupa dengan kartu e-Toll yang diluncurkan oleh Bank Mandiri, namun BANK Mandiri baru mengkhususkan pada interaksi pembayaran tol saja.


Penerapan RFID lainnya adalah kartu tiket Timezone. Dimana kartu tersebut menyimpan jumlah tiket permainan timezone didalamnya. Pelanggan yang telah menang dalam permainan timezone, biasanya akan mendapatkan bonus point. Jumlah tiket tersebut akan tersimpan pada kartu, secara otomatis pelanggan dapat menukar tiket tersebut dengan hadiah maupun dapat digunakan sebagai koin/ tiket yang digunakan untuk bermain di area permaianan timezone.


Penggunaan RFID yang dirasakan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan terutama jika dihadapkan pada pada waktu proses pelayanan. Namun penerapan RFID mengalami kendala yaitu biaya investasi yang cukup mahal. Belum lagi masalah regulasi pemerintah dalam proses penerapkan RFID. Hal ini dikarenakan RFID menggunakan gelombang radio, sehingga ditakutkan teknologi RFID dapat digunakan untuk kejahatan kriminalitas maupun terorisme. Olehkarena itu untuk meningkatkan kemahiran teknologi khususnya paya sistem pembayaran di retail-retail, dengan pemanfaatan RFID diperlukan pertimbangan matang bagi pelaku usaha maupun regulator dalam menciptakan sebuah regulasi yang tentunya adil.

Wednesday, March 24, 2010

The Key Success of Retail Business



Persaingan bisnis retail akhir-akhir ini dapat dikategorikan cukup tinggi. Bagaimana tidak, hampir seluruh bisnis retail yang ada di Indonesia menawarkan lokasi yang hampir sama ditengah produk dan jam pelayanan yang sama pula. Karena kesamaan tersebut, tidak mengherankan jika konsumen melakukan perubahan-perubahan kunjungan retail atau dalam arti tidak adanya tingkat loyalitas pelanggan terhadap bisnis retail tersebut. Lihat saja contohnya bisnis carefour dan hypermart diduanya sama-sama menawarkan produk yang sama serta harga yang tak jauh berbeda, serta lokasi dan fasilitas yang dapat dikategorikan sama. Tidak heran jika anda bertanya pada beberapa orang mana yang lebih nyaman menurut anda antara keduanya, tentu para responden berkata sama saja. Atau ketika anda bertanya apakah anda pernah ke carefour? Apakah anda pernah ke hypermart? Dan jawabanya sudah tentu bisa di tebak keduanya pernah mereka kunjungi. Hal ini lah yang menandakan tingkat loyalitas konsumen untuk bisnis retail tergolong rendah. Sehingga perlu adanya differentiation innovation dari para pembisnis retail jika ingin memenangkan persaingan ditengah kondisi perekonomian global saat ini. Produsen harus mampu bergerak dinamik sesuai dengan perubahan pasar dengan mengubah cara pandang sebagaimana kemajuan teknologi yang selalu merespon dinamika sehingga selalu menghasilkan terobosan dan inovasi baru.


Diferensiasi telah dikenal sebagai tindakan merancang seperangkat perbedaan yang berarti dalam penawaran perusahaan. Lebih lanjut, saya mendefinisikan diferensiasi sebagai menyatukan konten, konteks, dan infrastruktur penawaran kita kepada para konsumen. Produk yang berbeda adalah taktik utama bagi perusahaan untuk mendukung positioning-nya. jika positioning tidak didukung oleh diferensiasi, perusahaan akan hanya mengumbar janji dan tak bisa memuaskan konsumen, yang pada gilirannya akan merusak brand dan reputasi perusahaan. Apalagi jika bisnis tersebut bisnis dengan persaingan yang tinggi, tentunya diperlukan inovasi-inovasi yang menandakan produk atau jasa yang kita berikan berbeda dengan milik kompetitor. Bisa dibayangkan saya sebagai contoh jika terdapat tumpukan-tumpukan kertas dengan jenis kertas yang sama, ukuran yang sama bertumbuh hingga satu rim, dan kita dan kita diminta untuk mengmbilnya dengan kategori yang paling bagus, lalu bagaimana cara kita menentuknya. Tentu saja kita akan bingung menentukannya, Lain hal nya jika kita menentukan kertas yang bagus diantara kertas berwarna putih terselip kertas concorde berwarna pink. Maka tentu saja yang akan menarik pikiran kita adalah kerja yang berbeda tersebut, sekalipun dalam jumlah sedikit. Menari sekaligus bertanya-tanya apa gerangan yang mengakibatkan produk ini berbeda, apa bedanya, dan apa keahlianya.. Bermula dari perasaan penasaran hingga menjadi terpuaskan begitu mengetahui lebih detail. Begitu juga bisnis. JiKA secara mayoritas perusahaan menawarkan hal yang sama dengan perusahaan lain, tentunya akan mengakibatkan pelanggan bosan dan bertindak semaunya atau berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain karena toh pada akhirnya sama saja. Disinilah perlunya fungsi differentiation untuk diterapkan.


Adapun bentuk differentiation innovation yang hendaknya diterapkan adalah sebagai berikut :

1. Menjual experience, jenis produk atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk dapat mengujungi ritel. Namun perlu menjadi perhatian oleh pembisnis retail bahwa jangan pernah terpaku pada produk atau jasa yang ditawarkan tanpa menawarkan sesuatu yang unik dan menggairahkan rasa pengalaman dan kenangan yang mengesankan bagi pelanggan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan. Sebagai contoh Bread talk, Star buck dan J’Co antrian yang panjang pada gerai bukan berarti pelanggan menginginkan roti, kopi atau donat yang ditawarkan namun pengalaman yang mengesankan. Pengalaman tersebut mencakup permainan, pancaran indera yang mencakup tampilan, rasa, dan bau yang dirasakan oleh konsumen ketika mereka berkunjung ke retail tersebut. Seperti kata pepatah mengetakan bahwa pengalaman mahal harga nya. Inilah yang menjadi ladang bisnis tersendiri bagi pembisnis retail.


2. Kemajuan Teknologi, perkembangan kemajuan teknologi mendorong pelanggan dengan terkesan bermanja –manjaan dengan teknologi. Pelanggan dibiasakan dengan sesuatu yang cepat, praktis, dan instan. Ada beberapa teknologi yang mebayang-bayangi bisnis retai diantaranya adalah teknologi Wifi/hotspot dimana pelanggan dapat melakukan connection internet ketika mereka sedang berada pada retail, teknologi transaksi yang dapat memudahkan pelanggan ketika melakukan transaksi pembayaran dengan adanya teknologi RFID (Radio Frequency Identification) atau bahkan e-commerce. Teknologi lainnya adalah dalam bidang inventori dimana peritail dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberadaan inventori serta teknologi yang memfokuskan pada program retensi pelanggan seperti ID Card atau point reward bagi pelanggan yang sering berbelanja di retail tersebut.


3. Fokus pada interpersonal dengan pelanggan dimana peretail saat ini berlomba-lomba melakukan standarisasi pelayanan bagi konsumennya, tidak heran standarisasi seperti ISO 9000:2000 atau malcom baldrige dan lain-lainnya menjadi target bagi pengusaha retail.


4. Menjadikan pelanggan bukan sebagai end user namun sebagai pelaku usaha, dimana pelanggan bukan lagi yang harus dilayani namun merekalah yang melayani diri mereka sendiri. Harapannya retail dapat menunjukan ke fleksibilitas bagi pelanggan untuk menentukan apa yang mereka inginkan. Sehingga tak heran ketika mereka menginginkan makan jus strowbery maka pelanggan lah yang memetik sendiri strowbery nya dari kebun, kemudian mencucinya, dan memblendernya lalu meminumnya dan rasanya pun sesuai dengan yang dibuat oleh mereka sendiri.


5. Green Program, Tingginya kesadaran lingkungan untuk mencegah global warning mengakibatkan pelanggan berfokus pada program penyelamatan bumi, akibatnya peretail merasa terpancing untuk ikut andil dalan hal tersebut. Sebut saja carefour yang telah memanfaatkan tas belanja dapat dipakai secara terus menerus sehingga dapat menghemat penggunaan plastik.


6. Multi Produk, kecenderungan peretail untul mengikat konsumen semakin nyata. Peretail berusaha menjadikan retail sebagai one stop shoopping. Dimana adanya tuntutan untuk menjadikan retail sesuatu yang berbeda justru mengakibatkan retail menambah produk yang ditawarkan sehingga tidak mengherankan jika sebuah toko apotk menjual buah-buahan atau makanan serta pakaian bayi.


7. Co-branding, tingginya tingkat persaingan dalam bisnis retail mengakibatkan para pembisnis mengembangkan sayap ke perusahaan-perusahaan lainnya dengan porgram co-branding hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengefisiensikan program promosi. Sebagai contoh Indomaret dan Telkomsel yang bekerjasama dalam sistem pembayaran dengan menggunakan T-Cash pada retail-retail Indomaret.


8. Design Innovation perubahan secara berkala terhadap lokasi maupun design interior dari retail menjadikan perbaharuan suasana bagi konsumennya. Namun perlu di perhatiakan tata letak dari peletakan produk-produk yang ditawarkan sebagai contoh peltakan makan berdekatan dengan minuman, sabun didekatkan dengan shampo.


9. Promosi Harga cukup menggiurkan bagi pelanggan. Promosi harga yang ditawarkan oleh peretail dapat berupa subsidi silang antara satu produk dengan produk lain. Atau promosi harga pun dapat berupa gimick tersendiri bagi pelanggan. Sebagai contoh buy one get one, cash back, atau voucher tertentu.


Differentiation Innovation yang dilakukan para pelaku bisnis retail, hendaknya dapat menjawab kebutuhan dan keinginan konsumen, sehingga konsumen merasa nyaman ketika berada dan berkunjung pada retail tersebut dan dapat meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap retail tersebut.

Thursday, January 14, 2010

Innovation Is Company's Lifestyle



Suatu perusahaan baik usaha kecil, menengah, maupun tinggi selalu dituntut untuk melakukan inovasi. Prinsip “tidak ada yang sempurna dan tidak pernah puas” mendorong perusahaan untuk selalu beriinovasi. Inovasi memang dapat dinilai sebagai gaya hidup perusahaan. Tidak sampai disitu saja, akan percuma jika inovasi yang bagus hanya sekedar ide saja dan tidak diwujudkan. Karenanya discruption innovation merupakan landasan DNA (Do And Action) dari platform bisnis perusahaan.


Adapun alasan, kenapa perusahaan dituntut melakukan inovasi pada platform maupun strategi bisnisnya diantaranya adalah :


1. Untuk memelihara posisi sebagai prodk innovator

PT.Astra Internasional memanfaatkan saraa call center dan web site untuk menciptakan produk yang sesui dengan konsumen. Tak heran Astra selalu menerima 2 juta saran per tahun untuk menciptakan inovasi produk. PT. Telkomsel pun tidak pernah berhenti melakukan inovasi, penghargaan inovasi dengan menciptakan produk kartu prabayar se Asia mendorong Telkomsel untuk selalu berinovasi. Selain Telkomsel, Seimens bahkan menggunakan kata be inspired pada tagline bisnisnya untuk mendorong para internal konsumen untuk berinovasi.


2. Mempertahankan posisi market share

Market share merupakan tingkat dominasi produk di pasar dibandingkan dengan produk pesaingnya. Andanya inovasi akan mendorong konsumen untuk melakukan daya beli. Semakin banyak produknya dibeli maka jumlah market share akan meningkat. Contohnya Flazz BCA yang merupakan salah satu Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK), produk micropayment ini diluncurkan oleh BCA pada tahun 2009 untuk meningkatkan jumlah market share pelanggan BCA ditengah persaingan perbankan yang semakin ketat.


3. Mengembangkan pijakan di pasar pada masa yang akan datang

Sesuai dengan PLC (product life cycle), produ yang ada saat ini tentu lambat laun akan memasuki tahap maturity, yang ditandai dengan menurunnya daya beli konsumen terhadap produk tersebut. Sehingga perusahaan harus meluncurkan produk baru untuk menggantikan produk yang telah ada sebelumnya. Contohnya Telkom mengubah platform bisnisnya yang semula berfokus pada informasi dan komunikasi menjadi berfokus pada TIME (telecommunication, information, media and edutaiment). Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan bisnis Telkom mendatang. Hal yang serupa juga dilakukan oleh HM. Sampoerna, perusahaan yang semula focus pada produk rokok, kini Sampoerna melebarkan sayapnya dan masuk kepada bisnis telekomunikasi dengan mengibarkan bendera Sampoerna Telecom dengan nama produk Ceria.


4. Mengembangkan segmen pasar yang unik

Cara yang dilakukan yaitu dengan memasuki dan berkonsentrasi pada segmen yang selama ini tidak pernah dimasuki. Misalnya saja Unilever perusahan ini terkenal sebagai produsen produk customer goods, kini mulai memasukisegmen yang unik dengn meluncurkan produk ice cream yang mengusung nama walls. Contoh lainya adalah Nu, kini tidak hanya menawarkan minuman teh saja dengan meluncurkan Nu Juice, ia menyasar konsumen yang menyukai minuman jus ketimbang teh. Sosro pun tak mau ketinggalan, Sosro meluncurkan Fruit tea dengan kemasan tetra pack untuk memasuki segen masyarakat modern dan gerai modern yang tidak mendukung kemasan kaca.


Lalu bagaimana kita dapat menciptakan sebuah inovasi. Kuncinya adalah buka mata, buka telinga, dan buka hati. Jangan hanya terpatok bahwa ide untuk perusahaan hanya akan muncul jika kita berada di kantor saja. Inovasi terkadang muncul melalui hasil diskusi atau brainstorming dengan orang lain. Bahkan dari sebuah obrolan santai dan ringan pun dapat memunculkan sebuah ide. Inilah yang sering dilakuka oleh sosok Erick Meijer yang dikenal sebagai innovator di industry telekomunikasi seluler. Setiap sentuhannya selalu menghasilkan money bagi perusahaannya, ide selalu muncung kala ia berinteraksi dengan orang lain. Misalnya konten ring back tones (RBT) yang dihassilkan Erick saat ia masih menjabat sebagai GM. Pemasaran di Telkomsel. Dimana kala itu idenya dipatahkan oleh rekan bisnisnya sendiri. Namun kunci keberhassilan sebuah ide adalah bagaimana kita memanage suatu tantangan yaitu dengan menyadari bahwa sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itu yang seharusnya dimiliki oleh semua marketer dalam mewujudkan inovasi produknya.