Monday, July 12, 2010

Competitor



The competitor to be feared is

one who never bothers about you at all,

but goes on making his own business better all the time.


- Henry Ford -

Friday, June 18, 2010

Never Saturated



A market is never saturated

with a good product,

but it is very quickly saturated

with a bad one.

- Henry Ford -

Thursday, June 17, 2010

Implementation Of Ambush Marketing For World Cup



Tsamina mina eh, eh…Waka waka eh, eh…Tsamina mina zangalewa…This time for Africa.

Tsamina mina eh, eh…Waka waka eh, eh…Tsamina mina zangalewa…This time for Africa.


Penggalan lagu diatas merupakan lagu yang dinyanyikan oleh shakira yang berjudul Waka-waka. merupakan The song World cup 2010 dan tentu saja akan menghiasai pertandingan piala dunia tahun ini. Lagu tersebut bagai menyemangat tim yang bertanding pada perhelatan akbar yang diadakan setiap empat tahun sekali ini. Piala dunia memang memiliki tempat tersendiri bagi penggemarnya. Banyak orang yang tidak mau ketinggalan berita akan perlombaan tersebut, termasuk para marketer. Melihat animo public terhadap pertandingan tersebut, membuat para marketer memanfaatkan event yang resmi diadakan oleh FIFA di Afrika Selatan ini sebagai upaya dalam memasarkan produk atau layanan yang dihasilkan oleh perusahaan. Istilah tersebut dinamakan ambush marketing.

Ambush marketing adalah istilah dalam dunia pemasaran, dimana perusahaan atau brand mengasosiasikan dirinya dengan event olahraga tanpa mendapatkan izin resmi sebagai sponsor dalam event tersebut. Dalam arti bahwa secara ilegal, perusahaan menggunakan event tersebut untuk meningkatkan revenue perusahan. Meskipun sebenarnya hal ini sangat jauh dari tingkat sportif yang selalu digaungkan oleh sebuah perlombaan. Seperti pepatah Geoge Orwell yang mengatakan "Sport is war without the bullets" (Olahraga adalah peperangan tanpa harus membunuh satu sama lain). Pihak FIFA dan IOC pun telah melakukan aksi pencegahan terhadap aksi ambusher yang memanfaatkan event piala dunia secara ilegal dalam memasarkan produknya, namun sayang banyaknya perusahaan yang melakukan hal tersebut membuat aksi pencegahan pun belum berpengaruh. Akhirnya FIFA dan IOC menilai sejauh pemanfaatan tersebut tidak melanggar aturan yang ditetapkan penyelenggara, maka sah-sah saja si perusahaan (ambusher) melakukan ambush marketing tersebut.

Aksi ambush marketing menjadi strategi rutin yang dilakukan merek-merek baik global maupun lokal terhadap event-event olah raga akbar seperti Olimpiade, Piala Eropa, atau Piala Dunia. Ambush marketing biasanya dilakukan oleh perusahaan yang saling berseteru. Misalnya saja, jika brand Nike yang mendapat hak ekseklusif sponsorship, Adidas dan Reebok pun curi-curi melakukan ambush marketing. Begitu juga sebaliknya. Contoh lain bila cola cola yang mendapatkan hak ekseklusif sponsorship event tersebut, maka Pepsi pun dengan maksud untuk meningkatkan revenue perusahaan memanfaatkan event tersebut dalam pemasaran meskipun tidak mendapatkan izin resmi dari penyelenggaranya.

Tentu saja ambush marketing, sangat merugikan bagi perusahaan yang membayar dan mendapatkan izin resmi sebagai sponsorship dari event akbar tersebut. Kalau sang perusahaan (marketer) yang melakukan ambush marketing lebih gencar melakukan aksinya dibandingkan perusahaan yang mensposnsori secara resmi, tentu pelanggan akan mengasosiasikan perushaan yang melakukan ambush marketing adalah yang secara resmi mensponsorinya, dan buruknya hal ini bisa mengakibatkan revenue yang didapat tidak sesuai dengan target, meskipun biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sponsor resmi tidak sedikit. Contoh kasus ini terjadi pada Olimpiade Atlanta 1996. Pada saat itu Reebok merupakan sponsor resminya, namun yang terjadi justru banyak pecinta olah raga di Amerika yang mengira Nike lah yang memegang hak sponsor resmi. Sebabnya, karena Nike agresif sekali melakukan ambush marketing, baik melalui media above the line maupun below the line.

Sebagai event akbar terbesar di seluruh jagat raya, Piala Dunia 2010 ini pun tidak luput dari aksi kreatif para ambusher. Merek-merek top global saat ini melakukan ambush marketing ini baik secara terang-terangan maupun dengan cara yang amat halus agar tidak dituntut FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia. Menariknya, tidak hanya merek-merek top yang melakukan aksi ambush marketing, tapi juga perusahaan atau merek-merek kecil mulai dari restoran, operator telekomunikasi, hotel, stasiun TV, hingga produsen beragam produk dari permen hingga gadget.

Sebuah hotel misalnya, secara khusus mendekorasi ruangan-ruangannya mengikuti kostum tim-tim yang berlaga di Piala Dunia. Bahkan pada hari-hari tertentu pegawainya diminta menggunakan kostum tim olahraga yang berlaga pada piala dunia, termasuk mereka yang tidak tertarik pada perlombaan akbar tersebut. Kasus lain misalnya toko cake membuat koleksi khusus Piala Dunia. Atau sebuah retail yang membuat event sales promo pada produk-produk olahraga. Mereka semua bukanlah sponsor resmi Piala Dunia, namun menuai manisnya dari aksi ambush marketing yang dilakukannya.

Kasus terakhir adalah Kulula, sebuah perusahaan budget airline di Afrika Selatan yang menyebut diri dalam kampanye iklannya sebagai, “Unofficial National Carrier of the You-Know-What“. Airline ini juga menampilkan gambar stadion dan bendera nasional Afrika Selatan. Dalam komplainnya, FIFA mengecam bahwa itu semua adalah Ambush marketing yang melanggar ketentuan FIFA. Menurut FIFA, setiap perusahaan yang bukan sponsor resmi tidak boleh menggunakan simbol Piala Dunia, bahkan gambar stadion dan kata Afrika Selatan pun tidak diperbolehkan dipakai.

Indonesia pun merupakan negara yang tidak luput dari ambush marketing. Banyak produk yang memanfaatkan demam Piala Dunia ini walaupun mereka bukan sponsor resmi Piala Dunia 2010. Satu perusahaan misalnya, membikin event futsal selama berlangsungnya Piala Dunia. Sebuah operator seluler yang tidak mendapatkan izin resmi sebagai sponsorship Piala Dunia tetap beriklan di televisi dengan mengambil tema sepak bola (Piala Dunia). Ada juga merek yang mensponsori nonton bareng , talk show dan berita-berita mengenai Piala Dunia, sebagai upaya ambush marketing yang dilakukannya.

Sejauh iklan tersebut tidak melanggar ketentuan yang berlaku dari penyelenggara, memang tidak ada masalah bahkan perusahaan ambusher bisa mendapatkan untung, lain permasalahannya jika ternyata aksi tersebut terendus oleh FIFA dan IOC, serta dinyatakan sebagai aksi pelanggaran aturan, yang terjadi bukan untung malah bunting. Bukan hanya revenue yang tidak didapat tapi reputasi dan kreadibilitas perusahaan pun akan menjadi taruhanya. Olehkarena itu, kalau pun kita tidak menjadi sposnsor resmi dan berniat memberlakukan ambush marketing pada perusahaan jangan lupa untuk mengedepankan etika dalam beriklan.



Sukses Datang
BUKAN dari apa yang kita ketahui,
MELAINKAN dari Siapa yang kita kenal
dan
Bagaimana kita membawa diri terhadap masing-masing orang tersebut




(Lee Iacocca, CEO Mobil Eropa Chrysler)

Imajinasi



Imajinasi itu lebih penting

daripada

ilmu pengetahuan umum.



Ilmu pengetahuan umum itu terbatas,

sedangkan

imajinasi melingkupi dunia.


-Albert Einstein-

Percaya



"Untuk menjadi sukses
Anda harus percaya pada sesuatu dengan penuh hasrat
bahwa hal itu bisa menjadi kenyataan."

-
Dame Anita Roddick-

Wednesday, June 16, 2010

Green Marketing



Global Warming Effect Support's The Marketing

Hampir seluruh aktivis mengkampayekan slogan “STOP GLOBAL WARMING”. Spanduk, bilboard, pamflet, dan aksi penggalangan dana pun dilakukan untuk menyelamatkan bumi tercinta kita. Global Warning merupakan fenomena peningkatan temperatur global permukaan bumi dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.

Efek dari global warming ini memang cukup berdampak serius, diantaranya pelelehan es di kutub, kenaikan permukaan air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit. Isu pemanasan global (Global Warming) yang melanda bumi tempat kita bernaung, ternyata membuat marketer merasa gerah.

Perusahan – perusahaan pun kini mulai ikut ujuk gigi mengkampayekan penyelamatan bumi tersebut. Bahkan strategi-strategi pemasaran produk ke end customer mulai mengarah pada strategi green marketing. Yach.. tentu saja ini dilakukan untuk meningkatkan brand image dari perusahan mereka. Mereka ingin menyakinkan bahwa produk yang mereka hasilkan berasal dan melalui proses yang ramah lingkungan atau membuat image bahwa perusahaan mereka care terhadap kegiatan penyelematan lingkungan. Sehingga dapat menghasilkan positioning sebagai green company atau green product dimata konsumen. Tidak hanya perusahaan yang menawarkan produk tangible saja yang mengkampayekan anti global warming, perusahaan jasa (perusahaan intangible) pun mengkampayekan hal yang sama melalui green marketing strategy. yach Global warming memang telah menghijaukan dunia pemasaran memalui green marketing yang mulai dilirih oleh perusahan-perusahaan sebagai strategi memasarkan produk yang dihasilkannya.

Beberapa contoh perusahaan yang menerapkan green marketing di Indonesia diantaranya :
  • Go Green ala BNI dengan meluncurkan KPR Griya Hijau BNI yaitu perumahan yang mengusung tema green dalam konsep pembangunannya.
  • Go Green ala Excelcomindo dengan menerapkan slogan Go Green Go Paperless, dimana para pelanggan Xplor (produk pasca bayar yang diluncurkan oleh Excelcomindo Pratama) tidak akan mendapatkan tagihan secara fisik, melainkan diubah kedalam bentuk e-bill (yaitu melalui website resmi Exelcomindo atau dapat dikirim melalui email pelanggan). Namun jika pelanggan menginginkan tagihan tersebut pelanggan bisa mendapatkannya dengan syarat pelanggan membayar Rp.10.000 setiap bulannya. Program ini dilakukan oleh Exelcomindo Pramata sebagai wujud partisipasi perusahaan yang sejak 29 Desember 2009 berganti nama menjadi PT. XL Axiata, Tbk dalam menjaga kelestarian lingkungan seperti yang tertera pada surat edaran yang ditujukan oleh pelanggan Xplor yang berisi : "Pernahkan anda berhitung, berapa lembar kertas yang kita gunakan dalam sehari ? dan tahukah anda, bahwa untuk menghasilkan 1 rim kertas HVS, dibutuhkan waktu selama 5 tahun untuk membesarkan sebuah pohon ? dalam rangka mendukung gerakan GO GREEN GO PAPERLESS, XL mengajak anda untuk ikut berpartisipasi menjadi kelestarian lingkungan, dengan mengurangi pemakaian kertas dengan cara mengalihkan tagihan fisik menjadi tagihan elektronik melalu email dan website..... (masih bersambung)". (Dikutip dari http://news.okezone.com/).
  • Carefour menerapkan Tas Hijau bagi pelanggannya. Pelanggan dapat menggunakan tas tersebut pada saat berbelanja, sehingga pelanggan tidak akan mendapatkan barang belanjaannya dibungkus oleh plastik pada umumnya, dan pelanggan disarankan untuk membawanya kembali jika ingin berbelanja. Tas ini tidak berikan secara gratis kepada pelanggan, pelanggan diminta untuk membeli dengan harga berkisar antara Rp.2000 sampai dengan Rp.10.000 per tas. Uniknya tas hijau tersebut dilengkapi oleh fasilitas garansi yang diberikan oleh pihak carefour, dimana jika rusak maka pelanggan dapat menukarkan dengan tas yang masih layak pakai pada retail-retailnya.
  • Perusahaan elektronik pun tidak ingin ketinggalan salah satunya adalah PT. LG Electronics yang meluncurkan produk yang ramah lingkngan yaitu lemari pendingin Big Ref dan Side-by-Side Flower Pattern, serta mesin cuci Front Loading Mega Pro. Produk tersebut diperuntukan bagi pasar menengah atas. Tujuan dari peluncura produk tersebut adalah sebagai upaya merespon keinginan pasar yang mengutamakan penghematan listrik, air namun tetap mengedepankan kemajuan teknologi dan tahan lama. Bahkan LG pun memperkenalkan kit tenaga surya LG HFB-500 Bluetooth yang merupakan handphone yang dicharger tidak hanya mengggunakan listrik namun dapat menggunakan tenaga surya.
Definisi Green Marketing menurut American Marketing Association adalah pemasaran suatu produk yang diasumsikan sebagai produk yang ramah lingkungan. Banyak kendala yang dihadapi perusahaan dalam menerapkan green marketing selain modal yang besar, yaitu kepercayaan masyarakat dalam menilai perusahaan berkaitan dengan go green atau green campaign yang diterapkan perusahaan. Kepercayaan masyarakat tersebut tumbuh jika perusahaan mampu menghandle go green dengan baik sehingga tidak mengakibatkan adanya green marketing myopia yaitu kesalahan perusahaan dalam mempositioningkan diri sebagai green campany. Kesalahan tersebut biasanya ditandai dengan tidak adanya sinergi yang signifikan antara green campaign yang digembar-gemborkan perusahaan dengan kepuasan yang dirasakan oleh konsumen. Nah ini terkadang menjadi hot boom bagi perusahaan tersebut. Perusahaan hanya melihat berdasarkan yang tampak didepannya saja, namun tidak berpikir secara panjangan akibat dari kampayenya. Green Marketing memang sangat baik untuk mempositioningkan perusahan agar perusahaan mendapatkan image bahwa perusahan tersebut peduli terhadap lingkungan dan bukan merupakan perusahan yang menginvestasikan limbah yang dapat mencemarkan lingkungan. Namun perlu diperhatikan apakah kampaye yang digembar-gemborkan tersebut dapat direalisasikan secara real sehingga konsumen merasa puas dan percaya, jika tidak hal ini mengakibatkan image perusahaan bukan menjadi baik malah sebaliknya.

Salah satu perusahaan yang terkenal sebagai green company adalah The Body Shop. Perusahaan besutan Annita Roddick ini selalu mengedepankan lingkungan sosial. Gerai The Body Shop selalu dipenuhi dengan poster-poster LSM lingkungan yang menentang pembuangan limbah ke laut utara atau aksi-akasi sosial lainnya yang mengarah pada penyelamatan bumi. Dalam memproduksi produknya The Body Shop selalu menggunakan bahan baku alami atau mencegah pemakaian barang-barang yang tidak dapat didaur ulang. Salah satunya adalah penggunaan kantong belanja plastiknya dengan biodegradable bag yang konon dapat terurai dalam 2 tahun. Bahkan perusahaan yang namanya terinspirasi dari sebuah nama bengkel reparasi mobil di Amerika ini, mengalihkan keuntungan perusahaan yang didapat untuk program-program penyelamatan lingkungan contohnya saja aksi penyelamatan paus, penyelamatan hutan hujan, Amnesty Internasional, Friends of The Earth, atau bahkan aksi penanaman pohon. Tidak mengherankan jika perusahaan yng kini sahamnya telah dimiliki oleh L’Oreal mendapatkan predikat sebagai Greening Busineess karena kefokusannya dalam aksi penyelamatan lingkungan.

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi peusahaan yang akan menerapkan strategi go greeen pada sistem pemasaran mereka yaitu :
  1. Perusahaan harus mampu mengapresiasikan apa yang di kampayekan kepada perusahaan secara menyeluruh baik secara eksternal maupun internal sehingga tidak terkesan go green tersebut hanya sekedar mencari keuntungan saja atau sekegar iklan atau omong kosong saja.
  2. Pengetahuan konsumen terhadap penyelamatan lingkungan masih tergolong sangat rendah karenanya perusahaan perlu melakukan edukasi pada promosi-promosi yang dilakukan, tekankan pada penggunakan kalimat-kalimat yang mudah dipahami dan tidak menggunakan istilah teknis namun menjadi nilai tambah dari produk yang ditawarkan, misalnya saja hemat energi.
  3. Jangan segan-segan untuk mencantumkan sertifikasi ramah lingkungan jika perusahaan telah memilikinya pada packaging dari produk yang ditawarkan.
  4. Jika perlu lakukan fasilitasi konsumen berupa konsultasi. Hal ini bertujuan agar kesadaran konsumen tinggi sehingga konsumen dengan mudah mempertimbangkan dan menghitung biaya konsumsi yang mereka hemat jika menggunakan produk ramah lingkungan. Hal ini bisa dilakukan perusahaan pada gerai resmi, call center, maupun website resmi perusahaan.

Hal yang perlu diingat dan diperhatikan oleh marketer adalah jangan sampai green marketing mengkotak-kotakan inovasi dan kreasi marketer dengan selalu menampilkan aspek warna hijau pada packaging maupun tampilan luar perusahaan. Karena sesungguhanya green marketing lebih menekankan pada aspek ramah lingkungan. Oleh karena itu perlu persiapan yang matang jika perusahaan ingin menerapkan strategi green marketing dalam mendistribusikan dan mempromosikan produk maupun mempositioningkan perusahaan dibenak konsumen.